Phone:
(701)814-6992
Physical address:
6296 Donnelly Plaza
Ratkeville, Bahamas.
Halo anak-anak hebat kelas 3! Siapa di sini yang suka mendengarkan cerita? Hari ini, kita akan berpetualang ke masa lalu untuk mengenal dua nabi istimewa yang kisahnya penuh dengan pelajaran berharga. Mereka adalah Nabi Syu’aib dan Nabi Yusuf. Yuk, kita simak bersama!
Siapa Nabi Syu’aib?
Bayangkan ada sebuah kota yang sangat ramai, namanya Madyan. Penduduknya pandai berdagang, tapi sayang, mereka punya kebiasaan buruk. Mereka suka menipu saat berjualan. Nah, di tengah-tengah mereka, Allah mengutus seorang nabi yang baik hati dan bijaksana, yaitu Nabi Syu’aib. Beliau diutus untuk mengingatkan penduduk Madyan agar berhenti berbuat curang dan kembali ke jalan yang benar.
Kebiasaan Buruk Penduduk Madyan
Penduduk Madyan sangat suka berdagang. Mereka menimbang barang dagangan mereka dengan timbangan. Tapi, mereka seringkali mengurangi timbangan agar untung lebih banyak. Mereka juga mengurangi takaran saat menjual cairan. Wah, ini namanya curang ya, anak-anak. Akibatnya, barang yang mereka jual jadi tidak sesuai dengan yang dibayar oleh pembeli. Ini membuat banyak orang rugi dan tidak adil.
Dakwah Nabi Syu’aib
Nabi Syu’aib dengan sabar mendakwahi kaumnya. Beliau mengingatkan mereka, "Wahai kaumku, mengapa kalian berbuat seperti ini? Bertakwalah kepada Allah dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi." Beliau juga mengajarkan bahwa Allah Maha Melihat apa yang mereka lakukan. "Gunakanlah timbangan dan takaran dengan adil," nasihat Nabi Syu’aib. "Janganlah kalian mengurangi hak orang lain dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya."
Beliau menjelaskan bahwa kejujuran dalam berdagang adalah perintah Allah. Jika mereka jujur, Allah akan memberikan keberkahan dalam rezeki mereka. Namun, jika mereka terus menerus berbuat curang, Allah akan memberikan hukuman.
Reaksi Kaum Madyan
Sayangnya, banyak penduduk Madyan yang tidak mendengarkan nasihat Nabi Syu’aib. Mereka merasa kesal karena kebiasaan buruk mereka diungkit. Mereka justru mengejek dan mengancam Nabi Syu’aib. Mereka berkata, "Wahai Syu’aib, sesungguhnya kebanyakan dari apa yang kamu katakan itu tidak masuk akal, dan sesungguhnya kami memandangmu lemah di antara kami. Kalau tidak karena kaummu, pasti kami sudah merajammu, sedang kamu pun bukanlah orang yang kuat di hadapan kami."
Mereka juga tidak percaya bahwa Allah bisa menghukum mereka. Mereka merasa kuat dan kaya dengan hasil kecurangan mereka.
Azab untuk Kaum Madyan
Nabi Syu’aib terus berdakwah, namun kaumnya tetap membangkang. Akhirnya, Allah menurunkan azab yang pedih untuk mereka. Pertama, Allah mengirimkan musim kemarau yang panjang sehingga tanaman mereka kering dan hewan ternak mereka kehausan. Kehidupan mereka menjadi sangat sulit.
Namun, mereka tetap tidak mau bertaubat. Akhirnya, Allah mengirimkan azab yang lebih dahsyat, yaitu awan yang panas membakar. Penduduk Madyan berlarian mencari tempat berlindung dari panas yang menyiksa itu. Tetapi di mana pun mereka berlari, panas itu terus mengikuti. Akhirnya, mereka semua binasa di bawah siksaan awan panas tersebut.
Pelajaran dari Kisah Nabi Syu’aib:
Siapa Nabi Yusuf?
Sekarang, mari kita beralih ke kisah nabi yang sangat tampan dan punya banyak keistimewaan, yaitu Nabi Yusuf alaihis salam. Beliau adalah putra kesayangan Nabi Ya’qub. Sejak kecil, Nabi Yusuf sudah menunjukkan tanda-tanda kebaikan dan kecerdasan. Beliau juga memiliki wajah yang sangat rupawan.
Mimpi Indah Nabi Yusuf
Suatu malam, ketika Nabi Yusuf masih kecil, beliau bermimpi. Dalam mimpinya, beliau melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Wah, mimpi yang luar biasa ya! Pagi harinya, Nabi Yusuf menceritakan mimpinya kepada ayahnya, Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub yang bijaksana memahami bahwa mimpi itu adalah pertanda bahwa Nabi Yusuf kelak akan memiliki kedudukan yang tinggi dan dihormati.
Kedengkian Saudara-saudaranya
Karena Nabi Yusuf adalah anak kesayangan Nabi Ya’qub, beliau sering mendapatkan perhatian lebih. Hal ini menimbulkan rasa iri dan dengki di hati sebelas saudara laki-laki Nabi Yusuf yang lain. Mereka merasa tidak disayang oleh ayah mereka. Ditambah lagi, mereka melihat betapa tampannya Nabi Yusuf dan bagaimana ayahnya sangat menyayanginya. Rasa iri itu semakin membesar sampai akhirnya mereka berencana jahat.
Rencana Jahat Saudara-saudara Yusuf
Para saudara Yusuf berkumpul dan berkata, "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Binyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita, padahal kita adalah sekumpulan yang kuat. Sesungguhnya ayah kita adalah orang yang sesat yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu negeri agar perhatian ayah tertuju kepada kalian, dan setelah itu kalian menjadi orang-orang yang baik."
Ada satu saudara yang lebih baik hatinya, namanya Yahudza. Dia berkata, "Janganlah kalian membunuh Yusuf, tetapi jika kalian hendak berbuat sesuatu, maka lemparkanlah dia ke dasar sumur, nanti dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat." Akhirnya, mereka menyetujui usulan Yahudza.
Yusuf Dibuang ke Sumur
Dengan hati yang berat, Nabi Ya’qub akhirnya mengizinkan Yusuf dan Binyamin pergi bermain bersama saudara-saudaranya ke padang rumput. Ketika mereka sedang asyik bermain, saudara-saudara Yusuf segera melancarkan rencana jahat mereka. Mereka merebut baju Yusuf dan kemudian melemparkannya ke dalam sebuah sumur tua yang dalam. Setelah itu, mereka kembali ke rumah dan menangis di depan ayah mereka, seolah-olah Yusuf telah dimakan oleh serigala. Nabi Ya’qub sangat sedih mendengar kabar itu.
Yusuf Diselamatkan dan Dijual
Beberapa waktu kemudian, ada rombongan musafir yang sedang melintas di dekat sumur itu. Salah satu dari mereka mengambil air dari sumur, dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan seorang anak laki-laki di dalamnya. Mereka kemudian mengangkat Yusuf keluar dari sumur. Karena Yusuf sangat tampan, mereka memutuskan untuk menjualnya sebagai budak. Akhirnya, Yusuf dijual kepada seorang pejabat di Mesir yang kaya raya, namanya Al-Aziz.
Nabi Yusuf di Rumah Al-Aziz
Di rumah Al-Aziz, Nabi Yusuf diperlakukan dengan baik. Dia tumbuh menjadi pemuda yang tampan, cerdas, dan sangat jujur. Al-Aziz dan istrinya sangat menyayangi Yusuf. Bahkan, istri Al-Aziz jatuh cinta pada Yusuf dan berusaha menggoda Yusuf. Namun, Nabi Yusuf senantiasa menolak ajakan maksiat itu karena takut kepada Allah. Beliau selalu berkata, "Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya aku adalah seorang hamba yang mulia."
Nabi Yusuf Dipenjara
Karena penolakan Yusuf, istri Al-Aziz menjadi marah dan berbohong. Dia mengatakan bahwa Yusuf yang berusaha menggodanya. Akhirnya, Nabi Yusuf dipenjara. Di dalam penjara, Nabi Yusuf tetap menjadi pribadi yang baik. Beliau dikenal sebagai pemuda yang jujur dan pandai menafsirkan mimpi.
Nabi Yusuf Keluar dari Penjara
Di penjara, Nabi Yusuf bertemu dengan dua orang narapidana lain yang bermimpi. Nabi Yusuf menafsirkan mimpi mereka. Ternyata, salah satu dari mereka akan dibebaskan dan kembali bekerja di istana, sedangkan yang satu lagi akan dihukum mati. Tafsiran mimpi Nabi Yusuf ternyata benar.
Ketika raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, dan tujuh tangkai gandum hijau serta tujuh tangkai gandum kering, tidak ada seorang pun yang bisa menafsirkan mimpi itu. Akhirnya, orang yang pernah dipenjara bersama Yusuf teringat akan kemampuan Yusuf dan menceritakan tentangnya kepada raja.
Raja kemudian memanggil Nabi Yusuf. Nabi Yusuf menjelaskan bahwa mimpi itu adalah pertanda akan datangnya tujuh tahun masa kelimpahan, diikuti oleh tujuh tahun masa paceklik (kekeringan). Nabi Yusuf kemudian memberikan saran kepada raja bagaimana cara mengelola persediaan makanan agar mereka bisa melewati masa paceklik nanti.
Karena kecerdasan dan kejujurannya, raja Mesir sangat terkesan dan mengangkat Nabi Yusuf menjadi menteri keuangan yang mengurus seluruh perbendaharaan negara. Wah, luar biasa ya! Dari seorang anak yang dibuang ke sumur, akhirnya beliau menjadi orang yang sangat berkuasa.
Pertemuan Kembali dengan Keluarga
Bertahun-tahun kemudian, ketika Mesir sedang dilanda paceklik, saudara-saudara Nabi Yusuf datang untuk mencari makanan. Mereka tidak mengenali Yusuf karena sudah lama tidak bertemu dan Yusuf sekarang sudah menjadi pejabat tinggi. Nabi Yusuf mengenali mereka, namun beliau tidak langsung memberitahu jati dirinya.
Nabi Yusuf memberikan makanan kepada mereka, tetapi beliau berpesan agar mereka membawa saudara kandungnya yang lain (Binyamin) saat kembali lagi ke Mesir. Akhirnya, mereka kembali bersama Binyamin. Saat itulah Nabi Yusuf akhirnya mengungkapkan jati dirinya kepada saudara-saudaranya.
Semua saudara Yusuf sangat terkejut dan menyesal atas perbuatan mereka di masa lalu. Nabi Yusuf yang mulia memaafkan mereka. Kemudian, Nabi Yusuf mengajak seluruh keluarganya untuk pindah ke Mesir. Nabi Ya’qub pun sangat bahagia bisa berkumpul kembali dengan putra kesayangannya. Seluruh keluarga Nabi Ya’qub hidup bahagia di Mesir.
Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf:
Penutup
Anak-anak kelas 3 yang sholeh dan sholehah, kisah Nabi Syu’aib dan Nabi Yusuf mengajarkan kita banyak hal penting. Dari Nabi Syu’aib, kita belajar tentang pentingnya kejujuran dan ketaatan pada perintah Allah. Dari Nabi Yusuf, kita belajar tentang kesabaran, kejujuran, ketaqwaan, dan memafkan.
Semoga kita semua bisa meneladani sifat-sifat baik para nabi ini dalam kehidupan kita sehari-hari ya. Dengan berbuat jujur, sabar, dan selalu taat pada Allah, insya Allah hidup kita akan selalu diberkahi. Sampai jumpa di cerita nabi berikutnya!